Kenaikan permukaan air laut menjadi masalah serius terutama di daerah pesisir dengan ketinggian permukaan tanah yang tidak terlalu jauh dari permukaan air laut. Saat ini sudah banyak cara ditempuh masyarakat dan pemerintah bersama-sama.
Mulai dari peninggian jalan, peninggian rumah, penyedotan air dengan pompa air, hingga membuat pintu air pintu air baru.
Tapi apa jadinya kalau ternyata semua itu belum bisa memperbaiki keadaan secara signifikan ? atau bahkan malah menciptakan masalah baru.
Contoh, peninggian jalan, okelah pemerintah yang mendanai, tapi rumah warga ? siapa yang bertanggung jawab. Warga harus bekerja banting tulang untuk mengumpulkan uang, menyeimbangkan diri dengan kebijakan dan upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. Untunglah bisa dibantu beberapa yang mengalami kesulitan meninggikan rumah. yang lain ?
Pompa air, pompa ciptaan manusia tak seperti angin yang bisa membawa kabur banyak air. Sekuat-kuatnya pompa bisa rusak juga kalau dipaksa menyedot air satu RT bahkan satu desa.
Pintu air, banyak yang bilang orang-orang dulu sudah mendesain dengan baik dan memperhitungkan dengan tepat. entah benar entah salah tapi beginilah nyatanya.
Nah ketika solusi tadi kurang dirasakan hasilnya. Masalah tentu belum selesai, permukaan air laut naik tak terkendali, bahkan bisa dibilang jika harusnya air laut surut masih saja terlihat seperti pasang.
Mungkin salah satu solusi baru nya adalah rumah apung. Rumah apung sederhana saja, supaya warga tidak harus terengah-engah mengimbangi pemerintah untuk meninggikan rumah, supaya mereka juga tidak harus mengungsi.
Rumah apung dibuat agar bisa terangkat saat air meninggi dan menurun saat air laut surut. Namun sayangnya jika yang dibuat adalah rumah apung sederhana mungkin ada beberapa kriteria tertentu yang harus dipenuhi untuk membuat rumah apung sederhana ini.
1. Air tidak benar-benar habis meskipun air laut surut (Air sudah menggenang)
2. Angin tidak terlalu besar (kalau anginnya besar ikatan tali-tali nya mungkin harus ekstra)
3. Butuh keberanian
Tinggal dirumah apung berbeda dengan tinggal dirumah biasa, bisa saja suatu hari ada ular laut masuk atau rumah bergoyang-goyang saat angin besar/badai. Jadi butuh ini agar kehidupan dirumah apung dapat berlangsung.
Rumah Apung pilihan selanjutnya adalah rumah apung modern, tapi untuk ini saya sendiri belum memahami cara kerjanya dengan baik. Rumah ini akan terangkat jika air laut pasang, dan akan turun kembali jika surut sesuai dengan batas nya rumah itu. Rumah ini bisa menahan bedan yang jauh lebih berat dari rumah apung sederhana, Tapi efesienkah rumah jenis ini kalau yang dibutuhkan hanya rumah tinggal sementara untuk menunggu kebijaka pemerintah selanjutnya ?
Namun ada masalah kedua, transportasi ?... nah setelah membuat rumah apung apakah transportasi yang digunakan akan tetap jenis transporasi darat atau transportasi air semacam prahu kecil ?.
Saya rasanya untuk daerah yang masih belum menjadi lautan/ masih bisa di timbun bagian jalan-jalannya bisa tetap gunakan transportasi darat, jadi jangkar rumah apungnya bisa dipatokkan di tepi jalan, dan untuk yang sudah jadi lautan, bolehlah bangun jalan apung. Atau ganti saja dengan alat transportasi jukung/perahu.
Anda bisa menemukan banyak referensi jenis dan model rumah apung lainnya di Internet.
Jika masalah tinggi meninggikan tanah sudah tidak mampu mengurangi dampak air laut yang naik, bisa jadi rumah apunglah solusi yang bisa dipilih agar tetap bisa hidup di desa sendiri meskipun harus hidup diatas air.
Tapi apa jadinya kalau ternyata semua itu belum bisa memperbaiki keadaan secara signifikan ? atau bahkan malah menciptakan masalah baru.
Contoh, peninggian jalan, okelah pemerintah yang mendanai, tapi rumah warga ? siapa yang bertanggung jawab. Warga harus bekerja banting tulang untuk mengumpulkan uang, menyeimbangkan diri dengan kebijakan dan upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. Untunglah bisa dibantu beberapa yang mengalami kesulitan meninggikan rumah. yang lain ?
Pompa air, pompa ciptaan manusia tak seperti angin yang bisa membawa kabur banyak air. Sekuat-kuatnya pompa bisa rusak juga kalau dipaksa menyedot air satu RT bahkan satu desa.
Pintu air, banyak yang bilang orang-orang dulu sudah mendesain dengan baik dan memperhitungkan dengan tepat. entah benar entah salah tapi beginilah nyatanya.
Nah ketika solusi tadi kurang dirasakan hasilnya. Masalah tentu belum selesai, permukaan air laut naik tak terkendali, bahkan bisa dibilang jika harusnya air laut surut masih saja terlihat seperti pasang.
Mungkin salah satu solusi baru nya adalah rumah apung. Rumah apung sederhana saja, supaya warga tidak harus terengah-engah mengimbangi pemerintah untuk meninggikan rumah, supaya mereka juga tidak harus mengungsi.
Rumah apung dibuat agar bisa terangkat saat air meninggi dan menurun saat air laut surut. Namun sayangnya jika yang dibuat adalah rumah apung sederhana mungkin ada beberapa kriteria tertentu yang harus dipenuhi untuk membuat rumah apung sederhana ini.
1. Air tidak benar-benar habis meskipun air laut surut (Air sudah menggenang)
2. Angin tidak terlalu besar (kalau anginnya besar ikatan tali-tali nya mungkin harus ekstra)
3. Butuh keberanian
Tinggal dirumah apung berbeda dengan tinggal dirumah biasa, bisa saja suatu hari ada ular laut masuk atau rumah bergoyang-goyang saat angin besar/badai. Jadi butuh ini agar kehidupan dirumah apung dapat berlangsung.
![]() |
| image by ninotannio.files.wordpress.com |
Rumah Apung pilihan selanjutnya adalah rumah apung modern, tapi untuk ini saya sendiri belum memahami cara kerjanya dengan baik. Rumah ini akan terangkat jika air laut pasang, dan akan turun kembali jika surut sesuai dengan batas nya rumah itu. Rumah ini bisa menahan bedan yang jauh lebih berat dari rumah apung sederhana, Tapi efesienkah rumah jenis ini kalau yang dibutuhkan hanya rumah tinggal sementara untuk menunggu kebijaka pemerintah selanjutnya ?
![]() |
| Image by |
![]() |
| Image by |
Namun ada masalah kedua, transportasi ?... nah setelah membuat rumah apung apakah transportasi yang digunakan akan tetap jenis transporasi darat atau transportasi air semacam prahu kecil ?.
![]() |
| image by http://media.viva.co.id/ |
Saya rasanya untuk daerah yang masih belum menjadi lautan/ masih bisa di timbun bagian jalan-jalannya bisa tetap gunakan transportasi darat, jadi jangkar rumah apungnya bisa dipatokkan di tepi jalan, dan untuk yang sudah jadi lautan, bolehlah bangun jalan apung. Atau ganti saja dengan alat transportasi jukung/perahu.
Anda bisa menemukan banyak referensi jenis dan model rumah apung lainnya di Internet.
Kita tidak akan selamanya melarikan diri dari masalah, mencari solusi paling sederhana adalah pilihan yang bisa dibuat sambil menunggu ide besar digagas
Jika masalah tinggi meninggikan tanah sudah tidak mampu mengurangi dampak air laut yang naik, bisa jadi rumah apunglah solusi yang bisa dipilih agar tetap bisa hidup di desa sendiri meskipun harus hidup diatas air.




ConversionConversion EmoticonEmoticon