Arah Kiblat dan Arah Kehidupan

Allah SWT telah berfirman agar umat Islam berkiblat pada Ka'bah, tanpa tapi tanpa terkecuali.
Dimanapun kita berada Allah SWT meminta kita menghadap pada Ka'bah, begitupun Rosulullah SAW. Kiblat Beliau pun sama dengan kita.

kaskus.com


Jika benar kehidupan kita ini adalah untuk beribadah, seharusnya kita menuju arah yang sama, yaitu ke arah 'Kiblat'.
Apapun yang terjadi pada kehidupan mu, tetaplah menghadap Kiblat dan jangan pernah berpaling.

Bentuk Bumi yang tidak datar memberi gambar kehidupan yang berbeda-beda setiap manusia.
Kehidupan yang semu, seakan ada perbedaan antara kalangan atas dan kalangan bawah. Padahal keduanya adalah satu, satu hal yang sama dan tiada bedanya, Masih ingat ?

Di ruang dengan 0 gravitasi, tak ada yang namanya atas dan bawah. Dan itu juga yang terjadi jika saja kita memahami kita ini berada tidak dalam ikatan gaya tarik. Sesungguh tak ada beda antara keduanya. Apa yang Allah SWT tentukan buat hidup kita semua ini adalah sama.

Arah kita menghadap kiblat, hari ini aku ada di Indonesia bagian barat, dimana arah kiblat disini adalah 291 derajat dari arah utara. Tetapi, lain halnya jika sekarang aku berada di Amerika, di Prancis, atau bahkan di Mekkah sendiri.

media.isnet.org


Tempat kita berpijak kini adalah takdirnya, dan Kiblat adalah tempat kita menuju menengadah dan menghadap, merengku beribadah memenuhi takdir itu.

Jika kita memang diciptakan dan diberi kehidupan hanya untuk beribadah, lantas kita lalai dan enggan beribadah dari tempat kita sekarang, masihkah kita dianggap hidup ? atau hanya Makhluk dengan hati yang mati dan bergerak tanpa arah.

Allah SWT tak pernah salah, Dia Yang Maha Benar menempatkan mu pada takdir yang terbaik menurutnya, seperti Allah SWT menempatkanmu saat ini ditempat ini.
Dimanapun kamu berada, akankah kamu kehilangan kiblatmu ?

Jawabannya tidak, kita tidak akan pernah kehilangan kiblat dimanapun kita berada.
Begitupun hidup, jadi apapun kita hari ini dan bagaimana keadaan kita sekarang dengan sifat dan tabiat kita yang begini, kita tidak pernah kehialangan arah kita menghadap.

Pertanyaannya, apakah dalam kehidupan sehari-hari kita telah menghadap kiblat ?

Apakah apa yang kita lakukan selama ini benar-benar tulus karena Allah SWT, sebagai bentuk penghambaan kita yang telah Allah SWT ciptakan hanya dan HANYA untuk beribadah.

Menghadapkan arah hidup kita pada Kiblat yang benar tak akan membuat kita kehilangan rasa syukur, justru kita akan semakin tau betapa Maha Sucinya Allah SWT yang tidak membeda-bedakan, Yang Memiliki Timur dan Barat, dan Yang Maha Suci Pagi dan Sore.

Karena setelah kita menghadap, seluruh yang kita lakukan akan terasa lebih berarti, bekerja niatkan untuk beribadah, belajar niatkan untuk beribadah, jalan-jalan menyegarkan pikiran ? kalau bisa diniatkan tafakkur alam kenapa tidak ? :)

Teman-teman pena, apapun yang Allah SWT tentukan dalam hidup kita itulah tempat dimana kita berada si salah satu sisi bumi ini. Namun Allah SWT tak pernah bilang, bahwa kamu harus selalu menghadap ke barat, atau timur, atau kemanapun. Tapi Menghadaplah ke arah Ka'bah.

Dimanapun kamu berada dan jadi apapun kamu, menghadaplah padaNya dengan jalan itu.
Kita ini seperti hidup melingkari kiblat, jika kamu diberi harta yang sedikit mungkin saja jalanmu beribadah bukan lewat itu, namun lewat jalan lain yang pasti akan Allah SWT sediakan. Seperti jika aku berada di sisi barat Ka'bah maka aku harus menghadap ke timur untuk berkiblat pada Ka'bah. Bukan ke arah barat.

Kita tidak bisa menghindari takdir, karena kalau kita malah memaksa seakan tidak menerima apa yang Allah SWT beri, maka apakah kita bisa meloloskan diri dari rasa kufur ?...
Jalan paling sederhana adalah mencoba bersyukur, memanfaatkan apa yang ada sekarang untuk beribadah. Jika kita benar-benar disibukkan dengan bekerja, maka niatkanlah untuk beribadah. Jika kita diberi waktu luang yang banyak maka isilah dengan amalan-amalan yang bermanfaat.

Waktu kita sangat terbatas, jadi pastikan dimanapun kita berada, kita tetap menghadap ke arah kiblat yang haq. Menjalani hidup seikhlas-ikhlasnya dan terus berdo'a semoga Allah SWT tidak menutup mata hati kita, senantiasa memberikan hidayah agar kita ditetapkan pada kiblat yang benar.

Mari kita renungkan, betapa manis bahasaNya. Allah SWT tak menuntut kita harus jadi seorang ustadz, seorang ahli bangun malam, ataupun seorang wali. Karena itu juga takdirnya, jika memang Allah SWT berkehendak akan menjadikan mu wali Nya, maka siapa yang dapat membatalkan hal itu ?.  Tapi jika Allah SWT hendak menjadikanmu pekerja, pejabat, atau siapapun ? maka terimalah dengan senang dan rasa syukur.

Bisa saja kamu tidak menyukai suatu hal padahal itu adalah yang terbaik bagimu, sedangkan Allah SWT Maha Tahu atas apa yang terjadi pada HambaNya.



Previous
Next Post »